Nama : Ayu Ramadhini Hastuti

NRP : C24100024

Laskar : 25

Cerita Inspirasi berkenaan dengan diri sendiri

Kaidah Pegas

Ketika saya di bangku sekolah dasar, saya selalu mendapat peringkat 5 besar. Setiap hari saya belajar mengerjakan soal-soal latihan meskipun hari itu tidak ada tugas dari guru. Ibunda saya kebetulan seorang guru SMA, sejak saya memasuki bangku Taman Kanak-kanak beliau selalu menuntun saya belajar di rumah. Karena itu saya terbiasa sejak kecil belajar di rumah. Setiap pulang sekolah saya mengulang pelajaran yang tadi diajarkan oleh guru kemudian malam harinya saya belajar materi yang sekiranya akan diajarkan besok. Begitu seterusnya sampai saya lulus tes masuk SMP favorit di daerah saya, yaitu SMPN 1 Tambun Selatan, Sekolah Standar Nasional yang sekarang berganti nama menjadi SMPN 1 Kabupaten Bekasi dan beralih menjadi Sekolah Standar Internasional. Namun yang sangat saya sayangkan, tidak ada satupun dari ketiga teman saya yang lulus tes masuk ke SMP favorit itu. Saya menjadi kurang percaya diri, namun saya tahu bahwa semua yang telah ditentukan Allah adalah yang terbaik buat saya. Hanya itu kalimat yang menjadi bantalan motivasi dalam diri saya.

Hari pertama memasuki sekolah itu seperti hari yang paling menantang dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya berada di tengah orang-orang yang dalam hidupnya penuh motivasi belajar. Hari pertama adalah masa orientasi sekolah atau dikenal dengan sebutan MOS. Senior kami sebagai panitia bersikap baik kepada kami. Banyak dari teman saya yang dengan percaya dirinya memperkenalkan diri, menerima hukuman, bahakan tidak sedikit dari mereka yang membuat lelucon di depan kelas. Saya mendadak menjadi sosok yang pemalu dan tidak percaya diri karena disana saya merasa sendiri. Kebetulan saya duduk di bangku VII F, dan memang saat itu tidak ada kelas unggulan. Keseharian saya dipenuhi dengan tekanan mental. Saya merasa mereka lebih mampu dari saya, mereka lebih aktif, lebih kritis, lebih cepat tanggap dalam segala hal, lebih pintar, lebih cantik, dan lebih berada. Saya tidak melihat satupun poin yang ada dalam diri saya untuk dapat dibanggakan. Sampai ketika ulangan semester I nilai saya bisa dikategorikan rendah. Orang tua saya menganggap itu hal yang biasa terjadi ketika seorang anak sedang beradaptasi di lingkungnnya yang baru. Mereka mungkin tidak melihat perubahan yang signifikan dalam diri saya, terutama terkait mental.

Saya mulai berpikir dan mencari sesuatu yang berharga dalam diri saya. Saya mulai memberanikan diri untuk aktif dalam organisasi pramuka, namun lagi-lagi mental saya tidak bisa dibangun di organisasi itu karena organisasi itu menurut saya hanya mencari siswa yang aktif bukan membuat siswa menjadi aktif. Ketika naik ke kelas VIII, saya duduk di bangku VIII F dan seperti biasa memang tidak ada kelas unggulan. Di kelas VIII, saya mulai memiliki motivasi yang saya gali dari tekanan-tekanan mental. Saya mulai bergerak dengan mencari teman dekat yang bisa bersahabat dengan saya. Ketika itu, saya langsung merasa nyaman ngobrol dengan Ghina dan Novia. Mereka berdua lambat laun menjadi satu dengan saya. Setiap hari kita bertiga melakukan aktivitas bersama, dari mulai mengerjakan tugas, PR, diskusi kelompok, jajan di kantin, main ke warnet, sampai pulang bareng. Di kelas itu kita bertiga sama-sama rame dan selalu membuat lelucon. Hampir semua teman sekelas saya menjadi nyaman dengan keberadaan saya dan kami bertiga. Lambat laun saya mulai akrab dengan teman sekelas. Hasil yang sangat saya rasakan ketika saya mendapat rapor semester II, saya mendapat rangking 3 di kelas dan ditetapkan duduk di kelas unggulan IX A. Namun saya sangat sedih ketika mendengar bahwa kedua sahabat saya tidak duduk di kelas yang sama dengan saya.

Saya mencoba bernegosiasi dengan guru Bimbingan Konseling untuk dapat pindah di kelas yang sama dengan sahabat saya itu. Namun usaha itu gagal. Kedua orang tua saya di rumah memberi banyak motivasi. Dan suatu malam yang damai itu mengantarkan saya pada pemikiran-pemikiran sukses yang harus saya lakukan dari sekarang. Teman bukanlah suatu sandaran hidup. Mereka ada sebagai pelengkap kita dalam kehidupan sosial. Kita akan kehilangan mereka karena perjalanan hidup kelak yang berbeda. Dari awal saya memupuk konsep tanpa orang lain saya harus tetap survive karena kehidupan saya hanya saya yang menentukan, bukan kamu, dia, ataupun mereka. Dari konsep itu saya membuat perencanaan-perencanaan kedepan agar cita-cita dini saya untuk masuk ke SMA negeri di Jakarta dapat tercapai.

Hari demi hari saya lewati dengan tekanan terberat yang saya rasakan selama hidup saya berada di antara orang-orang individualistis dan berpedoman pada kemampuan berpikirnya. Ulangan Blok I saya mendapat rangking 1 di kelas. Dari situ saya semakin yakin bahwa saya mampu melebihi mereka. Kesombongan yang sedikit melintas dalam pribadi saya mengiringi saya pada tantangan yang lebih berat lagi. Semua siswa angkatan saya mengenal saya karena peringkat 1 itu. Namun teman-teman sekelas saya tidak rela dan percaya bahwa saya mendapat kedudukan itu. Mereka melihat saya secara objektif keseharian saya di kelas tidak lebih baik dari mereka. Mereka mulai belomba-lomba mengalahkan saya sampai pada Ulangan Blok II saya mendapat peringkat 36 dari 48 siswa. Rasa puas dalam diri mereka menggebu-gebu. Namun tanpa kebencian sedikitpun saya mulai berpikir kepuasan itu akan menjadi bumerang dalam diri mereka sendiri.

Dengan usaha yang maksimal saya belajar untuk mencapai tujuan saya yaitu mendapat hasil UN tinggi agar dapat mendaftar ke SMA Jakarta yang pada saat itu SMP dari luar Jakarta hanya mendapat kuota 5% dari bangku yang tersedia. Sampai pada pengumuman kelulusan wali kelas saya membacakan 10 siswa terbaik hasil UN tingkat sekolah, dan alhamdulillah nama saya dibacakan pada urutan ke 9 dari kelas IX A dan urutan ke 10 kebetulan diraih oleh teman saya yang duduk di kelas IX B. Ternyata dari tekanan-tekanan yang dialami dalam tiap-tiap sisi kehidupan harus dijadikan suatu motivasi besar yang dapat melepaskan diri terbang jauh dari posisi awal. Seperti halnya kaidah pegas. Semakin ditekan, semakin tinggi loncatannya.

Cerita inspirasi berkenaan dengan orang lain

Tujuan Motivasi dan Kesuksesan

Setiap orang ingin sukses. Itu pasti. Apakah rahasia kesuksesan itu?Apa yang membuat orang sukses? Apakah talenta, bakat, pendidikan tinggi atau koneksi. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lulusan Harvard yang telah lulus 20 tahun lalu, mengungkapkan bahwa 3% dari lulusan Harvard yang menulis sasarannya dengan sangat jelas mencapai

kebebasan finansial yang jauh lebih baik dari 97% lainnya. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kemungkinan orang sukses jauh lebih besar, ketika orang tersebut menuliskan sasaran (goal) dengan sangat jelas.

Orang-orang dengan talenta, bakat dan pendidikan biasa-biasa saja bisa berhasil jauh lebih baik, jika orang itu mau menuliskan sasaran dengan sangat jelas, fokus terhadap sasaran itu dan berusaha terus untuk mencapainya. Sudahkah Anda menulis sasaran yang Anda ingin capai? Jika belum, ada baiknya Anda menuliskan sasaran Anda. Bila sudah, apakah Anda terus berusaha memberikan yang terbaik untuk mencapai sasaran itu? Atau Anda berhenti dan menyerah di tengah jalan walau sasaran yang Anda inginkan belum tercapai. Anda mungkin berhenti di tengah jalan karena kehilangan motivasi atau karena sudah merasakan sedikit keberhasilan dan puas dengan pencapaian itu.

Ada sebuah cerita menarik. Satu tim yang terdiri dari sepuluh orangingin melakukan pendakian gunung. Tujuannya adalah untuk persahabatan dan membangun teamwork. Untuk mencapai puncak gunung itu kira-kira dibutuhkan 8 jam berjalan kaki. Sebelum mulai pendakian, setiap anggota saling memberi semangat dan motivasi. Saking bersemangatnya, mereka sudah tidak sabar lagi ingin mendaki lereng-lereng gunung,

mengambil foto dan membayangkan mereka merayakan kemenangan ketika mereka sudah sampai ke puncak gunung tersebut.

Mereka terus mendaki dan saling memberi semangat. Kira-kira setengah perjalanan dari pendakian itu, ada sebuah rumah makan kecil yang cukup menarik. Mereka berdiskusi kecil, apakah mereka berhenti disitu untuk makan siang sebentar atau melanjutkan perjalanan sampai ke puncak pegunungan. Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti beberapa menit untuk makan siang, minum kopi dan beristirahat sejenak. Dengan latar belakang pegunungan, para pendaki itu sangat menikmati pemandangan yang sangat indah dan menyenangkan.

Setelah mereka kenyang dan merasa nyaman, hanya lima orang dari mereka ingin melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Separuh dari mereka sudah merasa nyaman dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Bukan karena pendakian itu sulit. Bukan karena mereka tidak mampu. Bukan karena mereka sudah lelah. Tetapi karena separuh dari mereka merasa sudah cukup baik dimana mereka berada. Mereka kehilangan semangat untuk mendaki sampai ke puncak seperti tujuan awal mereka. Mereka kehilangan motivasi untuk melihat dan menikmati pemandangan- pemandangan baru, pemandangan- pemandangan yang belum pernah mereka lihat. Mereka sudah merasakan sedikit keberhasilan, dan mereka merasa ini cukup baik. Keinginan mereka untuk memberikan yang terbaik terhalangi dengan pencapaian yang mereka anggap cukup baik.

Sering kali kita seperti mereka. Awalnya, ketika kita baru saja merumuskan sasaran yang ingin kita capai (biasanya diawal tahun), kita begitu termotivasi, antusias dan bersemangat untuk mencapainya. Tetapi setelah mencicipi sedikit keberhasilan, kita menjadi malas. kita menjadi begitu cepat berpuas diri. Kita merasa sudah begitu nyaman

dengan dimana kita berada.

Dimana Anda berada sekarang mungkin bukanlah tempat yang buruk, itu tempat yang nyaman, tetapi Anda tahu persis bahwa itu bukanlah tempat dimana Anda seharusnya berada. Anda bisa melakukan terus yang terbaik dalam hidup, Bisa mencapai potensi maksimal yang bisa Anda Raih dalam hidup asal Tidak pernah berhenti. Selalu meningkatkan impian.

Manajemen Sumberdaya Perairan

FAKULTAS
Perikanan dan Ilmu Kelautan

DEPARTEMEN
Manajemen Sumberdaya Perairan

KETUA/SEKRETARIS DEPARTEMEN
Dr. Ir. Sulistiono, MSc. / Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc.

ALAMAT
Jl. Lingkar Akademik Gd. FPIK Kampus IPB Darmaga
Telp: 622932

MAYOR SARJANA
Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan (S.Pi) (Mayor Manajemen Sumberdaya Perairan)

PROGRAM PASCA SARJANA
Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut.

MANDAT DEPARTEMEN
Pengembangan ilmu dalam pengelolaan sumberdaya perairan (air tawar, payau dan laut) yang berkaitan dengan kelestarian, konservasi, ekosistem air dan perikanan berkelanjutan.

JUMLAH DOSEN
Profesor Doktor (4), Doktor (25), Magister (18), Sarjana (3)

KEUNGGULAN
Mampu dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi: pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perairan, konservasi sumberdaya dan kawasan perairan, pengelolaan sumberdaya perikanan.

FASILITAS
Ruang kuliah nyaman dilengkapi audio visual dan jaringan internet, perpustakaan dan 3 Laboratorium bagian Ekobiologi Perairan, Produktivitas dan Lingkungan Perairan dan Manajemen Sumberdaya Perikanan (MSPi).

KERJASAMA
DKP, LIPI, BPPT, Bakorsurtanal, PDAM Bogor, PT. Pertamina, Balai Penelitian Budidaya Pantai (BALIDITA), Balai Penelitian Perikanan Laut (BALITKANLUT), Balai Penelitian Perikanan Tawar (BALITKANWAR) PKS PT. Pertamina, Dephut, BAPEDAL, Pemda Bogor, Pemda Banten, JSPS-Tokyo University of Marine Science and Technology, DANIDA, Universitas Aarhus (Denmark).

IPB Badge

IPB Badge